Rabu, 25 Februari 2015

Nikmatnya Tidur Sambil Memeluk Istri


Pasangan suami dan istri itu diibaratkan sebagai pakaian satu bagi yang lainnya. Keduanya saling melengkapi, saling menutupi, saling memperindah, saling menghangatkan, sebagaimana fungsi pakaian pada umumnya. Bahkan pakaian sudah menyatu dan menjadi bagian utuh bagi pemakainya. Maka antara suami dan istri, kehidupan mereka saling melekat satu dengan yang lain.

Ternyata bukan hanya saat bangun, bahkan ketika tidur pun mereka saling melekat satu dengan yang lain. Sebuah gambaran kedekatan dan kelekatan yang luar biasa, dimana pasangan suami istri selalu berada dalam situasi yang dekat dan melekat erat seakan tidak akan ada yang mampu memisahkan antara mereka berdua. Dalam situasi bangun, mereka selalu melekat secara pikiran dan kejiwaan, kendati secara fisik kadang harus berjauhan karena pekerjaan atau kegiatan lain. Dalam situasi tidur, mereka saling berpelukan erat, tanpa mau tidur sendiri-sendiri.

Richard Wiseman, seorang profesor psikologi dari University of Hertfordshire di Inggris, bertanya kepada lebih dari 1.000 orang untuk menjelaskan tentang posisi tidur mereka. Dia juga meminta para responden untuk menilai kepribadian dan kualitas hubungan mereka. Survei itu menunjukkan bahwa posisi tidur paling populer —sebanyak 42 %, adalah tidur saling memunggungi, diikuti dengan pasangan yang senang tidur saling berhadapan, 31 %. Penelitian itu juga menemukan bahwa 12 % pasangan tidur saling berdekatan, hanya kurang dari satu inci, sedangkan 2 % pasangan tidur berjauhan, yaitu sejauh 30 inci atau sekitar 76 cm.

Dari hasil survei tersebut ditemukan, bahwa orang dengan kepribadian ekstrovert atau memiliki jiwa kebersamaan lebih suka tidur berdekatan dengan pasangan mereka. Ketika Wiseman membandingkan posisi tidur dengan kepuasan hubungan dari pasangan yang diteliti, dia menemukan bahwa kedekatan fisik berkaitan dengan kedekatan emosional. “Salah satu hal terpenting meliputi sentuhan. Sebanyak 94 % pasangan yang menghabiskan malam dengan saling menyentuh akan merasa bahagia terhadap hubungan mereka. Berbeda dengan 68 % pasangan lainnya yang tidak punya kebiasaan itu,” ujarnya.
Lebih jauh lagi, 86 % pasangan yang tidur kurang dari satu inci dari pasangannya, akan merasa lebih bahagia dalam hubungan mereka. Berbanding terbalik dengan 66 % pasangan yang tidur berjauhan, lebih dari 30 inci.

Menikmati Tidur Bersama

Sebagai pasangan yang diibaratkan seperti pakaian, maka suami dan istri hendaknya selalu berada dalam suasana kebersamaan baik dalam jaga dan tidurnya. Kendati tidak selalu bisa berada dalam tempat yang sama, namun suami da istri telah memiliki ikatan batin yang sangat kuat yang membuat mereka serasa selalu dekat. Saat suami dan istri harus berpisah karena ada tugas dinas, atau urusan bisnis, atau urusan organisasi, atau urusan lain, maka mereka memiliki suasana jiwa yang tetap dekat dan melekat. Apalagi saat tengah bersama di rumah mereka, tentu suasananya lebih erat dan lekat.
Sekedar urusan tidur, hendaknya suami dan istri memperhatikan etika agar tetap merasakan kenyamanan bersama.

1. Usahakan Selalu Tidur Bersama

Saat sama-sama sedang berada di rumah, atau sedang bepergian berdua, hendaknya suami dan istri bisa berangkat tidur bersama. Ini memerlukan kesepakatan ritme waktu tidur di antara mereka, sehingga bisa pergi ke ranjang bersama. Jika memiliki bayi atau anak kecil, bisa mengusahakan agar anak-anak tidur terlebih dahulu baru kedua orang tuanya menyusul tidur bersama. Usahakan untuk tidak berangkat tidur pada waktu yang berbeda, karena membuat mereka tidak bisa menikmati indahnya tidur bersama. Dengan memiliki kesepakatan waktu tidur, suami dan istri bisa berangkat tidur bersama-sama.
Tidur bersama itu artinya tidur dalam waktu yang sama dan di tempat yang sama. Untuk itu, tidak pantas bagi suami dan istri tidur di tempat yang terpisah saat sedang berada di rumah. Misalnya istri tidur di dalam kamar sedangkan suami tidur di sofa depan televisi. Atau istri tidur di ranjang, sedang suami tidur di karpet, meskipun berada di kamar yang sama. Atau suami dan istri tidur di kamar yang berbeda, atau tidur di ranjang yang berbeda. Keterpisahan seperti ini membuat kurangnya ikatan batin antara suami dan istri. Usahakan untuk selalu tidur berduaan.

2. Tidur Sambil Berpelukan

Bukan hanya soal waktu dan tempat tidur saja yang perlu diperhatikan, namun juga posisi tidur. Walaupun tidur pada waktu yang bersamaan dan di tempat yang sama, namun kalau tidur dengan terpisah jarak, ditambah dihalangi oleh bantal dan guling, maka sama saja dengan tidur sendiri sendiri.

Posisi tidur yang dianjurkan bagi pasangan suami istri adalah posisi menyamping, dimana suami memeluk istri dari belakang. Dengan posisi itu, membuat suami merasa memiliki istri seutuhnya, dan secara psikologis suami merasa lebih pulas tidur. Sebuah penelitian di Medical University of Vienna menyatakan bahwa tidur berpelukan dapat meredakan stres kerja atau stres lingkungan sosial, menurunkan tekanan darah, dan meningkatkan memori. Hal-hal positif tersebut hanya berlaku jika anda memeluk pasangan yang anda sayangi.
Posisi memeluk dari belakang ini disebut juga dengan istilah forward bear. Menurut Tod Sinett dalam bukunya “The Truth About Back Pain”, posisi tersebut jika dilakukan dengan lutut sedikit ditekuk akan sangat baik untuk pasangan yang memiliki masalah tulang punggung. Selain itu, studi juga menemukan bahwa pasangan suami istri yang sering berpelukan saat tidur, membuat mereka lebih awet mudah. Hal ini terjadi karena mereka merasa bahagia dengan saling mencintai, sehingga hormon oksitosin (hormon bahagia) pun terlepas merata dalam tubuh masing-masing pasangan.

Ketika tidur sendiri, otak cenderung berpikir lebih banyak, ini yang menyebabkan anda seringkali mengalami kesulitan tidur. Studi menunjukkan, tidur bersama pasangan memungkinkan otak merasa rileks dan tidak memikirkan hal-hal lain sehingga anda lebih cepat terlelap. Selain itu, ketika tidur bersama pasangan, anda akan merasa nyaman dan aman. Hal ini pada gilirannya akan memengaruhi kualitas tidur. Bahkan gesekan kulit saat tidur dan berpelukan dengan pasangan dapat membantu tubuh merasa senang karena produksi oksitosin yang tinggi.

14248632202128426233
ilustrasi : www.dailymail.co.uk
Banyak ahli yang mengatakan bahwa tidur bersama adalah salah satu cara memiliki hubungan yang sehat bersama pasangan. Hal ini karena saat tidur bersama dan berbagi tempat tidur, pasangan akan merasa semakin dekat satu sama lain secara emosional. Pasangan yang berpelukan usai berhubungan intim akan merasa lebih puas dengan kehidupan seks dan hubungan mereka secara keseluruhan, demikian dilansir dari Archives of Sexual Behavior.

Dilansir dari laman Women’s Health pada Selasa (13/1/2015), bahwa diantara manfaat tidur berpelukan dengan pasangan adalah menguatkan ikatan hati dengan pasangan. “Semakin dekat posisi anda dengan pasangan saat tidur, semakin besar kemungkinan untuk merasa senang dengan hubungan dengan pasangan,” demikian diungkapkan dalam studi terbaru dalam Edinburgh International Science Festival.

Kontak kulit dengan kulit membuat otak memberitahu kelenjar adrenal untuk mengurangi produksi kortisol. Hal ini membuat rasa cemas berkurang. “Pada saat merasa cemas, tubuh akan menunda tidur”, ujar penulis buku Finding Love Again: 6 Simple Steps to a New and Happy Relationships, Terry Orbuch, Ph.D.

3. Minta Izin Kepada Pasangan Jika Ingin Tidur pada Waktu dan Tempat yang Berbeda

Jika pasangan anda tengah asyik mengerjakan sesuatu urusan hingga lembur, sementara anda sudah mengantuk dan perlu istirahat, mintalah izin kepada pasangan jika ingin mendahului tidur. Jangan pergi diam-diam ke tempat tidur dengan meninggalkan pasangan yang tengah sibuk bekerja di ruang dapur atau di ruang keluarga. Jangan dibalik, justru minta izin untuk tidur bersama. Suami istri itu semestinya tidur bersama, maka tidak perlu lagi minta izin untuk melakukannya. Yang diperlukan adalah meminta izin ketika akan mendahului tidur, atau izin untuk mengakhirkan tidur dengan mempersilakan pasangan tidur terlebih dahulu.

Demikian pula saat ingin tidur pada tempat yang terpisah, misalnya karena udara tengah gerah lalu suami ingin tidur di lantai biar sejuk, maka ia perlu minta kerelaan sang istri. Hal ini karena semestinya suami tidur bersama dengan istri bahkan sambil berpelukan. Ketika salah satu tidur terpisah, menyebabkan hilangnya hak yang lain untuk memeluk ataupun dipeluk. Inilah sebabnya perlu meminta izin atau meminta kerelaan pasangan jika ingin tidur terpisah.

Bagi anda yang masih terbiasa tidur sendiri-sendiri, terpisah dari pasangan, mulai malam ini upayakan tidur bersama pasangan, dengan berpelukan. Nikmati sensasinya, dapatkan kemanfaatannya.

Bahan Bacaan :
Andhina Wulandari, Pentingnya Berpelukan dalam Hubungan Pernikahan, Solopos, 2014, dalam http://www.solopos.com/2014/11/05/tips-hubungan-pasutri-pentingnya-berpelukan-dalam-hubungan-penikahan-549802
Syafrina Syaaf, Manfaat Tidur Sembari Dipeluk Dari Belakang, Kompas, 2014, dalamhttp://female.kompas.com/read/2014/11/05/220000420/Manfaat.Tidur.sembari.Dipeluk.dari.Belakang.oleh.Pasangan
Baca selengkapnya

Selasa, 24 Februari 2015

Tidak Perlu Sempurna untuk Menikah

ilustrasi : www.hamiltonmosque.com

Anda masih lajang dan belum menikah? Anda merasa kesulitan menemukan calon pendamping hidup Anda? Sudah sekian lama Anda berusaha mendapatkan calon jodoh sesuai kriteria, namun belum juga menemukannya? Saran saya: sesuaikan kriteria Anda. Kesulitan itu terjadi, mungkin karena Anda berharap hadirnya calon pasangan hidup yang sempurna, tanpa cacat, sesuai dengan harapan ideal Anda.

Berikut beberapa tips bagi Anda yang tengah mencari calon jodoh atau yang tengah berproses menuju pernikahan.

1. Berusaha Mendapatkan Jodoh Terbaik
Tentu saja Anda wajib berusaha untuk mendapatkan jodoh yang terbaik bagi dunia dan akhirat Anda. Tidak boleh sembarangan dalam memilih jodoh, karena menikah adalah untuk selamanya. Tidak untuk waktu yang terbatas. Maka pilih calon jodoh dengan kriteria utama kebaikan agama atau akhlak, bukan semata-mata soal kecantikan, ketampanan, kekayaan, ataupun status sosial.

2. Segera Ambil Keputusan
Menikah adalah bab mengambil keputusan, setelah Anda melakukan proses pencarian. Jangan berharap mendapatkan seseorang yang sempurna, karena kesempurnaan hanya milik Allah. Tidak ada manusia sempurna, selalu ada kekurangannya. Jika Anda melihat gadis cantik, di tempat lain juga ada gadis yang lebih cantik. Jika Anda tertarik pemuda tampan, di tempat lain juga ada pemuda yang lebih tampan.
Lakukan musyawarah dengan orang-orang salih tentang pilihan Anda, kemudian lakukan pula istikharah. Ambil kemantapan, dan segera ambil keputusan.

3. Pasangan Hidup Adalah Sahabat
Anda tidak memerlukan orang yang sempurna untuk menjadi pasangan hidup Anda. Yang Anda perlukan hanyalah seseorang yang bersedia menemani Anda, mengerti diri Anda, bisa menerima kondisi Anda, mau menjadi sahabat Anda dalam suka dan duka, mau melewati hidup bersama dalam segala keadaannya. Anda tidak memerlukan seseorang yang sempurna untuk menjadi suami atau istri, karena memang tidak ada lelaki sempurna, tidak ada perempuan sempurna.

4. Terima Kekurangannya
Siapa pun yang Anda pilih untuk menjadi pendamping hidup, ia selalu memiliki kekurangan. Sebagaimana Anda pun memiliki kekurangan. Maka jangan pernah berharap kesempurnaan dari manusia. Setelah melakukan usaha memilih calon jodoh terbaik, kemudian sudah anda ambil keputusan untuk menikah dengannya, maka terimalah ia dengan segala kelebihan dan kekurangannya. Jangan menyesal menikah dengannya, ketika kelak Anda menemukan sisi kekurangan yang belum Anda lihat sekarang.

5. Proses Menjadi Lebih Baik
Yang Anda perlukan adalah kesediaan untuk berproses bersama pasangan untuk menjadi diri yang lebih baik. Dari waktu ke waktu, Anda selalu mengusahakan perbaikan, demikian pula pasangan Anda. Seseorang bisa saja memiliki masa lalu yang tidak baik, namun toh itu sudah berlalu. Yang paling penting adalah menoreh sejarah baru yang lebih baik pada masa sekarang dan yang akan datang.

6. Optimis Menghadapi Masa Depan
Setelah menikah, fokuslah menata hidup Anda di masa kini dan masa mendatang. Jangan terbelenggu oleh masa lalu. Masa depan Anda masih panjang membentang, lakukan berbagai usaha untuk mendapatkan kehidupan yang baik, kehidupan keluarga yang berkah, kehidupan keluarga yang sakinah, mawaddah wa rahmah. Raihlah surga dunia dan surga akhirat bersama pasangan Anda.

7. Bersama Menghadapi Permasalahan
Dalam kehidupan berumah tangga, pasti akan dijumpai konflik, pertengkaran, permasalahan dan tantangan kehidupan. Jangan takut dan khawatir dengan berbagai persoalan dan tantangan kehidupan. Tersenyumlah menghadapi hari-hari berat yang akan Anda lalui. Yang paling penting, Anda selalu bergandengan tangan bersama pasangan, melewati badai bersama-sama, menghadapi ganasnya tantangan kehidupan bersama-sama.

8. Kuatkan Ikatan dengan Tuhan
Sebagai insan beriman, Anda telah memutuskan untuk menikah dengan seseorang yang mencintai Anda karena Allah. Bisa menemani Anda dalam kehidupan berumah tangga karena Allah. Bisa membahagiakan Anda karena Allah. Maka, kuatkan ikatan keluarga Anda dengan Allah. Jangan pernah terlepas dari ikatan dengan-Nya. Karena hanya Ia yang akan bisa menyelamatkan Anda, hanya Ia yang akan bisa memberi pertolongan kepada Anda.

9. Nikmati Kebahagiaan Anda
Kehidupan berumah tangga pasti ada masa-masa pahit dan getirnya, pasti menghadapi ketegangannya. Bersabarlah dengan itu semua. Karena hidup berumah tangga memang memiliki aneka rasa. Kadang manis, kadang pahit, kadang getir, kadang menegangkan, kadang menyenangkan. Semua pasti akan Anda hadapi dan Anda alami. Nikmati saja semua rasanya, Anda akan mendapatkan kebahagiaan yang sesungguhnya bila mampu menikmati aneka rasa hidup berumah tangga.

10. Berikan Kontribusi Kebaikan
Hidup kita bukan hanya untuk diri kita, namun kita dituntut untuk peduli dan berbagi dengan sesama. Berikan kontribusi kebaikan bagi masyarakat sekitar, berikan kebahagiaan bagi keluarga besar, berikan kebaikan bagi bangsa dan negara. Hidup kita akan sangat pendek jika hanya berpikir untuk diri sendiri, namun akan sangat panjang apabila mau peduli dan berbagi. Kebahagiaan hakiki itu dalam memberi, bukan dalam menerima pemberian.
Baca selengkapnya

Jumat, 22 November 2013

Sabar Adalah Tuntutan Setiap Mihwar Dakwah


Kamis (21 Nopember 2013) kemarin, ustadz Anis Matta memberikan taujih kepada para aktivis dan qiyadah dakwah yang berkumpul di Jakarta Convention Center (JCC). Di antara isi taujih beliau adalah tentang pentingnya kita menguatkan kesabaran dalam menapaki jalan perjuangan. Menurut beliau, sabar adalah karakter dan akhlaq yang paling banyak disebut di dalam Al Qur’an, sampai para ulama menyebut sabar sebagai induknya semua akhlaq terpuji.

Tiada hentinya kita harus mengingatkan diri tentang kesabaran. Bukan hanya karena di jalan dakwah akan banyak tantangan dan hambatan dari luar. Makar, konspirasi, pembusukan karakter, pengadilan yang tidak adil, persepsi publik yang negatif, penyelewengan opini lewat berbagai media, dan lain sebagainya. Namun kesabaran ini diperlukan di setiap mihwar, karena secara internal pun dakwah ini hanya bisa dijalankan oleh mereka yang sabar.

Sabar, sabar, sabar… Beginilah jalan dakwah telah kita lalui. Berkomunitas bersama orang-orang salih bukannya tanpa masalah, maka Allah memerintahkan agar kita selalu bersabar bersama mereka :

“Dan bersabarlah kamu bersama-sama dengan orang-orang yang menyeru Tuhannya di pagi dan senja hari dengan mengharap keridhaan-Nya; dan janganlah kedua matamu berpaling dari mereka (karena) mengharapkan perhiasan dunia ini; dan janganlah kamu mengikuti orang yang hatinya telah Kami lalaikan dari mengingati Kami, serta menuruti hawa nafsunya dan adalah keadaannya itu melewati batas” (Al Kahfi : 28).

Bisa jadi ada salah paham di antara para aktivis. Bisa jadi ada ketidaknyamanan perasaan di antara para pelaku dakwah. Bisa jadi ada gesekan-gesekan antar aktivis dakwah dalam kancah politik praktis. Bisa jadi ada data yang kurang valid, namun digunakan untuk pengambilan keputusan. Bisa jadi ada stigma yang menganga, dan tidak pernah ada pengadilan yang memberikan klarifikasi. Bisa jadi ada persepsi yang keliru terhadap seorang aktivis namun diyakini untuk memberikan penilaian kepadanya. Bisa jadi ada ketidaktepatan dalam menerapkan teori-teori fiqih dakwah yang telah dipelajari selama ini.

Capek, lelah mendera jiwa dan raga. Namun ini adalah pilihan, yang tidak ada sedikitpun paksaan kita bersamanya. Bisa jadi di sepanjang perjalanan dakwah ini ada ketidakpahaman, ada ketidakmengertian, dan kita tidak pernah menemukan jawaban. Bisa jadi Khalid bin Walid tidak pernah mengerti mengapa dirinya diganti dari posisi panglima perang yang demikian dihormati. Namun toh kehormatan dirinya tidak runtuh karena posisi itu tidak lagi dia miliki.

Kehormatan diri kita adanya pada konsistensi. Konsisten menapaki kebenaran. Konsisten menapaki jalan kebaikan. Komitmen pada peraturan. Teguh memegang keputusan. Mendengar dan taat, itulah karakter kader teladan. Bukankah ini ujian, karena yang kita dengar dan kita taati bisa jadi berbeda dengan suara hati nurani. “Qum Ya Hudzaifah !” Menggelegar suara perintah. Dan Hudzaifah segera bangkit berdiri. Taat tanpa kompromi kepada Sang Nabi.

Kehormatan diri bukan terletak pada posisi kita sebagai apa. Tidak menjadi apa-apa, tetap bisa dihormati. Kita terhormat karena karakter yang kuat, kita terhormat karena karya yang tiada pernah berhenti, kita terhormat karena kerja yang terus menerus, kita terhormat karena keteladanan, kita terhormat karena konsisten, kita terhormat karena kesabaran dan kesetiaan di jalanNya.

Sabar, itulah kunci keberhasilan dakwah di setiap mihwar.
Baca selengkapnya

Rabu, 06 Februari 2013

Saat Engkau Dizalimi


Engkau mungkin terlalu sensitif.

Engkau mengira semua orang menghinamu.

Engkau mengira semua orang mengejekmu.

Engkau merasa semua orang mentertawakanmu.

Engkau menduga semua orang membencimu.

Padahal tidak begitu.

Yang terjadi adalah : semua orang tengah memperhatikanmu.

Oleh karena itu mereka akan segera mengetahui kualitas dirimu.

Ketegaranmu memberikan inspirasi bagi siapapun yang memperhatikanmu.

Ketabahanmu memberikan motivasi kepada semua orang di sekitarmu.

Ketulusanmu menguatkan langkah perjuanganmu.

Teruslah berjalan dan bekerja menggapai visi peradaban baru.

Tegakkan kepalamu, saudaraku.

Jangan ragu.

Allah tidak akan menyia-nyiakan semua usaha dakwahmu.
Baca selengkapnya

Tegarlah Seperti Nuh As

Engkau kira selamanya engkau akan dipuji orang? Bukankah pujian itu justru melenakanmu?

Engkau kira selamanya kerjamu akan dihargai? Ketahuilah, orang paling baik di muka bumi inipun –para Nabi– tetap dicaci dan bahkan dimusuhi.

Bagaimana dengan kita yang dhaif ini?

Belajarlah tegar, seperti Nuh yang diejek kaumnya. Padahal ia tengah bekerja menyiapkan bahtera keselamatan.

“Dan mulailah Nabi Nuh membuat bahtera. Dan setiap kali pemimpin kaumnya berjalan melewati Nabi Nuh, mereka mengejeknya. Berkatalah Nabi Nuh : Jika kalian mengejek kami maka sesungguhnya kami pun nanti akan mengejek kalian sebagaimana kalian mengejek kami” (QS. Hud: 38).

Mereka selalu mengejek Nuh yang tengah bekerja menyelematkan peradaban. Tapi Nuh tetap bekerja walau diejek, dihina dan dinista.

Maka teruslah berbuat kebaikan walau engkau dihujat bahkan dilaknat.

“Janganlah kamu bersedih hati tentang apa yang selalu mereka kerjakan” (QS. Hud: 36).
Baca selengkapnya